Keesaan Tuhan adalah Keyakinan yang Rasional

Pertentangan mengenai agama dan ilmu pengetahuan selalu ada sejak dahulu hingga sekarang. Padahal agama dan ilmu pengetahuan saling terkait satu sama lainnya. Seperti yang dikatan oleh Albert Einstein bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama; lumpuh, dan agama tanpa ilmu pengetahuan; buta. Tak heran bila penemu mengatakan bahwa masa depan ditentukan oleh generasi sekarang bagaimana mereka mengaplikasikan mengenai agama dan ilmu pengetahuan. Tidak semua pertanyaan mengenai penciptaan alam ini akan dijawab oleh ilmu pengetahuan. Dan tidak semua ajaran agama diterima mentah-mentah oleh akal.

Hindu dan Yunani
Ajaran mengenai Hindu sangatlah jelas dilihat dari sejarah-sejarah dan mitologi Yunani. Ajaran Hindu sendiri tidak hanya menyebar ke daerah Yunani melainkan sampai ke Cina. Hindu dan Yunani memiliki banyak persamaan, baik dari segi konteks keyakinan, maupun dalam tata bahasa. Contohnya dalam mitologi Yunani pahlawan dikatakan herakles, sedangkan dalam mitologi Hindu dikatakan Hara Kala. Dewa langit dalam mitologi Yunani dikatakan Jupiter, sedangkan dalam Hindu dikatakan Dyaus-pitar.Nama bangsa Yunani disebut Sparta yang artinya suku bangsa yang kuat, sedangkan dalam Hindu dikatakan Spardha-ta yang artinya penantang. Dengan demikian pengaruh Hindu di Yunani sangat kental sekali.

Tuhan Bapak
Dyaus dalam bahasa sansekerta dan Zeus dalam bahasa Yunani sama-sama memiliki arti yaitu mengenai Tuhan Bapak. Kitab perjanjian injil yang lama sudah lenyap, yang ada saat ini kitab perjanjian injil yang baru dalam bahasa Yunani. Pemikiran mengenai Tuhan untuk menyelamatkan dunia hanyalah buah pemikiran Yunani.

Ketuhanan Krisyna, Budha dan Yesus
Di dalam teologi Kristen, Tuhan dipahami dalam konsep Trinitas, yaitu Allah-Bapak sebagai Tuhan, anak laki-laki sebagai oknum kedua, dan roh kudus sebagai oknum ketiga. Sehingga ketiganya ini dikatakan Trinitas. Di dalam Hindu juga memiliki oknum tiga, yaitu Brahma sebagai Tuhan, Krisyna sebagai anak/membimbing manusia di muka bumi, dan sebagai oknum ketiga adalah Shiva yang artinya Rohul Kudus. Adapun konsep keyakinan Hindu tersebut disebut sebagai Trimurti. Hal yang dikemukan sebelumnya bukanlah pendapat biasa, melainkan pendapat para pakar yang telah meneliti Hindu dan Kristen. Perjanjian baru sekarang yaitu Injil sangat kental dengan pemahaman Hindu. Menurut Swami Abedhananda, bahwa agama Kristen telah diinfiltrasi oleh pemahaman-pemahaman hindu. Maka dengan begitu kepercayaan pemahaman mengenai Injil sendiri sudah tercampuri dengan mitos-mitos.

Tuhan dan Pengetahuan
Pengetahuan mengenai Trinitas tentu akan dibantah oleh akal. Bagaimana mungkin Tuhan melakukan inkarnasi atau menjelma menjadi seorang manusia? Kalaupun Tuhan mengirimkan utusan-Nya untuk membimbing umat mungkin masih masuk akal. Namun, apabila ia berwujud makhluk, maka ia tidak dapat dikatakan Tuhan.

Perkembangan Teologi Kristen dan Penulisan Injil
Menerut penemu dan pendapat para ahli seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa ajaran Kristen sama seperti pemahaman yang dianut oleh Hindu. Hal ini dapat dibuktikan bila anda mengkaji lebih dalam kedua pemahaman tersebut. Namun, seiring perkembangan zaman, Kristen saat ini menggunakan kitab perjanjian baru. Banyak sekali penulisan kitab injil yang telah lama hilang atau sengaja dihilangkan oleh pihak gereja. Pihak gereja terutama Paulus telah mengganti beberapa yang diturunkan injil dengan menambah argumennya sendiri dan dibubuhi dengan mitos-mitos. Perayaan natal sama halnya dengan perayaan orang-orang kafir, perayaan penyembahan dewi matahari.

Tauhid; Keesaan Tuhan dalam Teologi Islam
Dalam Islam itu Tuhan hanya satu (Esa). Seperti yang termaktub dalam Surah An-Nisa 4: 171 “Dan janganlah kamu mengatakan (Tuhan itu) tiga. Berhentilah (dari ucapan itu) itulebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa”. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Allah hanya memiliki utusan berwujud manusia yaitu Nabi dan Rasul. Ada Musa yang membimbing umat Israel, Dzulkifli atau Budha yang membimbing umatnya sendiri, Isa yang membimbing umat palestina dan Muhammad saw. Yang membimbing umat Islam.
Adapun mengenai Nabi adam as, manusia yang pertama kali di bumi, Allah tidak melahirkannya melainkan menciptakannya. Tuhan tidak berwujud seperti makhluknya, apabila Tuhan sama berwujud seperti makhluk-Nya maka ia tidak dapat dikatakan Tuhan. Hal ini sangat masuk akal sesuai dengan prinsip berpikir yaitu prinsip identitas, bahwa sesuatu hanya sama (identik) dengan dirinya sendiri. Untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk pada buku O. Hashem yang berjudul Keesaan Tuhan.
Selamat mengesakan Tuhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar