Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Manusia

Serigala Betina. Saya memikirkan jauh sebelum saya lebih mendalam memahami isi buku ini. Mengapa seorang Psikolog sekaligus feminism seperti Ester Lianawati menggambarkan perempuan sebagai serigala betina? Ternyata disitulah adanya pembahasan penggambaran ciri-ciri serigala betina yang berarti berani, peduli, dan mampu beradaptasi dalam segala kondisi dan situasi. Itulah alasan utama saya menyukai buku ini. Saya suka ungkapan serigala betina, diluar terlihat keras tetapi di dalam sangat lembut. Alasan kedua mengapa saya menyukai buku ini adalah Ester mengajak kita untuk menelisik diri sendiri. Menelisik diri sendiri adalah hal yang sangat mendalam dan sangat tidak mengenakkan. Kita melihat luka dalam yang kita tutup rapat-rapat di sudut tergelap hati kita, menyadarkan kita bagaimana kita dituntut untuk menjadi perempuan baik-baik dalam masyarakat patriakis, bahkan mengingatkan Kembali bahwa kita sebagai perempuan tidak pernah dididik untuk mengambil keputusan untuk diri sendiri misalnya. Buku yang ditulis Ester ini adalah perpaduan antara Psikologi dan feminism. Ester sama halnya dengan saya atau mungkin beberapa dari kalian. Perempuan yang naif, permasalahan yang kompleks, dan perempuan yang terkungkung dalam nilai-nilai patriakis.

 

Aku Ingin Pulang meski Sudah di Rumah


Amal jariyah adalah sebuah tindakan yang dilakukan seseorang yang semata-semata mengharapkan ridha dari Allah swt. Dari Abu Hurairah, Rasulllah saw bersabda bahwa “ketika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya”. Kemudian terbesit dalam ingatan saya mungkin salah satu ilmu bermanfaat adalah kembali meresensi buku yang saya baca kembali atau review kembali (saya tidak akan resensi satu buku/membuat ringkasan pendek, pertama hanya akan membuat anda malas membaca buku dan kedua jika ingin mengetahui lebih banyak tentu anda harus membeli di toko resmi ya baik itu hardcopy/softcopy resmi). Tahun ini saya niatkan demikian, salah satu buku yang cukup ringan dan berkesan adalah salah satu esai berjudul aku ingin pulang meski sudah dirumah oleh Kwon Rabin.

Belajar Cerdas Berbasiskan Otak

 

Bagaimana belajar cerdas berbasis otak? Mari memulainya dengan sebuah analogi. Apabila anda terkena penyakit ginjal mungkin anda dapat mencangkok ginjal orang lain dan ginjal anda akan sehat kembali, lalu anda tetap yang anda dulu. Tetapi tidak dengan otak. Ketika anda mencangkok otak orang lain, anda bukanlah diri anda melainkan orang lain. Otak hanya sebesar satu tangkai buah anggur yang dilindungi oleh batok kepala. Otaklah yang mengontrol sifat dasar manusia seperti belajar, makan, tidur dan sebagainya. Otaklah yang memiliki peranan penting untuk memerintah seluruh anggota tubuh kita melalui sistem saraf.

Relevansi Otak dan Usia

Dalam kehidupan mungkin anda sering mendengar bahwa kekuatan otak akan melemah sesuai dengan usia. Mungkin itu teori jaman dahulu yang sudah tidak sesuai dengan keadaan sekarang. Faktanya, ketika para peneliti menguji dan mengumpulkan beberapa lansia yang dibagi menjadi dua kelompok, maka kelompok pertama ditekankan untuk berperan aktif seperti olahraga dan yang satunya tidak demikian. Maka hasil penelitian membuktikan bahwa lansia yang berperan aktif dalam kegiatan salah satunya dalam olahraga perkembangan otaknya lebih meningkat dan mudah menghapal sesuatu. Sebaliknya, malah tidak ada perkembangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa otak anda akan tetap terus berkembang seiring bertambah usia, asalkan anda berperan aktif baik itu belajar, berolahraga, dan mengurangi makanan yang berlemak dan mengkomsumsi makanan yang sehat. Perkembangan otak hanya akan mundur apabila anda terserang penyakit sepert Alzhemeir atau Diabetes.