Sekolah Itu Candu

Alasan paling menarik kenapa saya memilih buku ini tentu dari judulnya. Sekolah itu candu karya Roem Topatimasang. Apakah sekolah dalam subjektif saya dengan penulis sama atau terlampau berbeda? Yang saya yakin pasti berbeda 100%. Sekolah yang saya ketahui adalah dimanapun saya berada adalah sekolah, siapapun orang yang saya temui adalah guru. Sedangkan sekolah menurut perspektif penulis sendiri adalah apakah sekolah bisa memanusiakan manusia itu sendiri? Masih pantaskah sekolah melabelkan diri sebagai lembaga tunggal yang mencerdaskan seseorang? Tulisan ini hanya ditujukan kepada mereka yang masih percaya pada keampuhan 1 lembaga yang bernama sekolah.

Sekolah: dari Athena ke Cuernavaca
Saya baru menyadari bahwa sekolah dalam bahasa aslinya berasal dari bahasa latin yaitu skhole, scola, scolae yang artinya adalah waktu luang dan waktu senggang. Sampai di pembahasan ini saya tertawa terbahak-bahak, lantas bertahun-tahun ini saya banyak waktu luang? (Tolong abaikan ini, hanya perspektif saya saja). Tak ada yang keliru sampai di sini, bila kembali pada masa Yunani kuno awal mula sekolah adalah mengisi waktu luang dan berguru kepada orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Kemudian berkembang dgn ketidakmampuan orang tua untuk mengajarkan bidang ilmu tertentu kepada anak-anak mereka dan mempercayakan kepada orang-orang (yang kita kenal guru atau sejenisnya) sebagai orang yang dipercayakan mendidik anak-anak mereka dengan memberikan upah. Sekolah kemudian berkembang menjadi lembaga yang dipercaya dapat mendidik anak-anak di masa depan sehingga dikatakan ibu asuh kedua (almameter). Celakanya sekolah yang cuma berarti mengisi waktu luang, mewujudkan dirinya sebagai sisyem kelembagaan yang kadang kalanya diartikan sebagai wujud hakikat pendidikan itu sendiri.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Memulai awal tahun 2020, saya akan kembali meresensi buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Dalam tulisannya kali ini menekankan dan menyadarkan kita dari desional pribadi bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan terbatas (walaupun ada yang beranggapan bahwa manusia ada makhluk paling sempurna, whatever!). Mark mengajarkan kita untuk memahami batasan diri serta memahami dan menerimanya. 


Berhenti berusaha
Ada sebuah cerita seseorang yang bekerja di Kantor Pos, dalam 30 tahun hidupnya hanya dihabiskan untuk bermabuk-mabukan, meniduri perempuan mana saja yang ia ingini, bahkan menghabiskan sisa-sisa gajinya dalam judi pacuan kuda. Tapi dibalik itu ia masih menulis puisi-puisinya yang kasar dan tidak bermoral yang sudah sangat jelas akan ditolak media manapun. Namun, dibalik tulisan-tulisannya yang kasar dan menjijikkan ada seseorang aneh yang tertarik dengan tulisannya, singkat cerita ia menjadi terkenal dan memiliki segalanya. Hal yang dia sadari adalah dirinya adalah pecundang dan akan tetap seperti itu. Ia menerima kekurangan yang ada dalam dirinya. Lantas, ketenaran dan kekayaan merubah dirinya? Tentu tidak. Dia tetap akan mabuk-mabukan, meniduri perempuan manapun, dan judi pacuan kuda. Stigma masyarakat kita secara umum mengganggap adalah ketenaran adalah perubahan diri menjadi lebih baik. Padahal hal itu alan sedikit terjadi secara bersamaan. Dari semua tulisan Mark yang paling mendekati saya pribadi adalah ketika saya membaca buku untuk terapi berpikir positif untuk diri saya sendiri. Dan itu jelas berdampak kepada saya memilah-milah sikap saya yang buruk dan merubah itu semua. Tapi jujur itu tekanan buat saya merubah itu dan tidak menerima diri saja dan tidak pernah menjadi diri saya sendiri, tidak sama seperti yang dilakukan pemabuk yang bekerja di Kantor Pos tersebut. Jika anda merasakan hal yang sama seperti saya, Mark hanya menuliskan berhenti berpikir dangkal dan palsu. Bersikaplah menerima kekurangan diri dan akui itu. Untuk menjadi pribadi yang baik bukan memedulikan berbagai macam hal, tetapi memedulilan hal yang sederhana, hanya peduli kepada apa yang benar dan mendesak untuk merubah pribadi menjadi lebih baik. Itulah seni bersikap bodo amat. Mark hanya menekankan jangan terlalu cemas dengan kecemasan anda, jangan ketakutan dengan rasa takut anda sendiri. Mungkin hari ini hanya kurang beruntung dan anda melihat feed teman-teman anda berbahagia. Tenang saja dunia ini benar-benar keparat, memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya. Anda hanya perlu mengatakan "saya merasa buruk, tapi terus kenapa? Apa pedulimu?" Kemudian anda berhenti membenci diri anda sendiri saat merasa begitu kecewa. Masa bodoh atau bodoamat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.