Alasan paling menarik kenapa saya memilih buku ini tentu dari judulnya. Sekolah itu candu karya Roem Topatimasang. Apakah sekolah dalam subjektif saya dengan penulis sama atau terlampau berbeda? Yang saya yakin pasti berbeda 100%. Sekolah yang saya ketahui adalah dimanapun saya berada adalah sekolah, siapapun orang yang saya temui adalah guru. Sedangkan sekolah menurut perspektif penulis sendiri adalah apakah sekolah bisa memanusiakan manusia itu sendiri? Masih pantaskah sekolah melabelkan diri sebagai lembaga tunggal yang mencerdaskan seseorang? Tulisan ini hanya ditujukan kepada mereka yang masih percaya pada keampuhan 1 lembaga yang bernama sekolah.
Sekolah: dari Athena ke Cuernavaca
Saya baru menyadari bahwa sekolah dalam bahasa aslinya berasal dari bahasa latin yaitu skhole, scola, scolae yang artinya adalah waktu luang dan waktu senggang. Sampai di pembahasan ini saya tertawa terbahak-bahak, lantas bertahun-tahun ini saya banyak waktu luang? (Tolong abaikan ini, hanya perspektif saya saja). Tak ada yang keliru sampai di sini, bila kembali pada masa Yunani kuno awal mula sekolah adalah mengisi waktu luang dan berguru kepada orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Kemudian berkembang dgn ketidakmampuan orang tua untuk mengajarkan bidang ilmu tertentu kepada anak-anak mereka dan mempercayakan kepada orang-orang (yang kita kenal guru atau sejenisnya) sebagai orang yang dipercayakan mendidik anak-anak mereka dengan memberikan upah. Sekolah kemudian berkembang menjadi lembaga yang dipercaya dapat mendidik anak-anak di masa depan sehingga dikatakan ibu asuh kedua (almameter). Celakanya sekolah yang cuma berarti mengisi waktu luang, mewujudkan dirinya sebagai sisyem kelembagaan yang kadang kalanya diartikan sebagai wujud hakikat pendidikan itu sendiri.

