Manusia Bugis

            Sebagian dunia hanya mengenal Indonesia dari suku Jawa dan Bali karena pada waktu itu memang cukup terkenal kedua suku tersebut saja. Lalu bagaimana dengan suku yang berada di Sulawesi? Pulau Jawa dan Bali memiliki beraneka ragam suku sama dengan Sulawesi, namun lebih disayangkan lagi di Sulawesi tidak dikenalnya suku Bugis padahal suku ini cukup lama dan sudah menyebar di seluruh Indonesia bahkan dunia. Kemudian Christian Perlas dalam salah satu tulisannya mengenai Manusia Bugis (The Bugis) yang telah diterjemahkan menyusun rangkaian asal usul suku bugis tersebut. Beliau merupakan Arkeolog dari Prancis yang mempelajari budaya di Asia Tenggara khusunya daerah Timur (Sulawesi). Pertama kali tulisannya disebarluaskan disana kemudian dibantu oleh beberapa penerjemah untuk diproduksi di Indonesia.

Pendahuluan
            Secara umum kita mengatakan bahwa suku Bugis dan Makassar itu tidak beda bahkan sama saja dengan suku lainnya, namun pada kenyataannya di Sulawesi terbagi menjadi empat suku besar yaitu Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Sebenanrya suku Bugis dari berabad-abad lamanya tidak dikenal di Nusantara, hanya sedikit pengetahuan yang beredar mengenai suku Bugis. Informasi yang paling keliru mengenai suku Bugis ini adalah orang Bugis merupakan pelaut sejak zaman dahulu kala. Padalah aktivitas maritim mereka baru berkembang pada abad ke-18 sedangkan perahu phinisi baru ditemukan pada abad ke-19. Mereka mengenal Agama Islam pada abad ke-17 dan sebagian ajaran Islam menjadi patokan budaya mereka, walaupun sebagian masih percaya akan bissu (dukun). Mengenai tanah Sulawesi dikenal cukup luas sekitar 191.800km2 dibandingkan Pulau Jawa 128.000km2. Baru pada abad ke-16 Eropa menginjakkan kakinya di Sulawesi Selatan dengan maksud perdagangan pada tahun 1530, namun Portugis baru menjalankan perdagangan secara teratur pada tahun 1559. Tidak mengherankan bila Eropa menganggap Sulawesi merupakan pula terpisah karena saat itu masih banyak rawa serta danau yang ditutupi oleh banyak hutan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya nenek moyang orang Bugis bukanlah pelaut melainkan petani, pedagang, dan peternak. Baik orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja mereka berasal dari sub-rumpun bahasa Austronesia Barat. Suku Mandar (populasi 400.000) bermukim di pantai barat laut, suku Toraja (populasi 600.000) mendiami pegunugan daerah utara, orang Bugis (populasi lebih 3juta di Sulawesi Selatan dan 600.000 di perantauan) menghuni hampir seluruh daratan dan perbukitan sebelah selatan, dan orang Makassar (populasi sekitar 2juta ) menetap di ujung selatan semenanjung, serta tersebar di pantai dan pegunungan.

Pembentukan Identitas Bugis: Dari Asal Usul Hingga ke Zaman Klasik
            Dalam periode awal sudah ada dikenal  zaman logam, tinggalan megalitik, dan keramik impor. Hal ini berarti sudah dikenal adanya perdagangan antara Sulawesi dengan pulau-pulai lainnya seperti Jawa, Sumatra, bahkan Filipina. Siklus La Galigo merupakan salah satu mitos yang dapat dijadikan pegangan sejarah suku bugis walaupun tidak diceritakan secara rinci dan sebagian diakui ceritanya oleh orang-orang pendahulu. La Galigo merupakan cerita rakyat klasik yang sebagian ceritanya mungkin akan tidak masuk akal bagi manusia era modern masa kini. Namun beberapa dalam naskah La Galigo benar-benar terjadi dalam masyarakat bugis. Agama dalam naskah La Galigo dikenal dengan adanya Bissu (dukun). Sawerigading merupakan tokoh utama dalam cerita rakyat bugis. Menjelang masuknya Islam sangat sulit untuk diterima orang bugis. Seperti tidak akan ada lagi perbedaan baik bangsawan dan rakyat biasa, penyembahan pada benda-benda sakral tertentu, hingga kepercayaan kepada bissu yang sedikit demi sedikit memudar walaupun sampai saat ini masih dipercayai.

Masyarakat dan Budaya
Dalam sistem perkawinan seorang bangsawan bugis perempuan hanya boleh menikahi seseorang pria yang sederajat dengannya atau lebih tinggi kedudukan kebangsawanannya dibanding dirinya. Berbeda dengan laki-laki yang boleh menikahi perempuan mana saja, yang dimana perempuan tersebut terangkat derajatnya karena pernikahan. Tujuan pernikahan adalah untuk mempererat tali kekeluargaan yang jauh misalnya ideal dengan sepupu. Hubungan perkawinan dengan sepupu satu kali jarang terjadi karena sebagian orang bugis mengatakan “terlalu panas”. Tujuan lainnya adalah untuk menjadi mitra usaha. Pernikahan antara keponakan dan paman tidak boleh dilakukan apalagi yang masih hubungan darah hal ini diikuti sesuai dengan syariat Islam. Dalam sistem politik bugis tradisional hal ini masih dipegang teguh, karena berdampak kepada status keturunan dan hak pewarisan tahta.
            Selama proses perkawinan pihak laki-laki memberikan mas kawin terhadap perempuan yang terdiri dari dua bagian yaitu sompa (berupa persembahan secara harfiah berbeda dengan yang dikatakan mahar dalam Islam disimbolkan dengan uang rial ditentukan dengan status perempuan serta dui’menre yang secara harfiah uang panaik yang secara harfiah uang yang diserahkan kepada pihak perempuan untuk melaksanakan pesta perkawinan) dan lise kawing yang dalam Islam disebut sebagai mahar yang kadang diganti dengan Al-Quran.
            Sejak 1920 dikenakan gelar baru dalam bangsawan Bugis atau Makassar di atas cera’ tellu yaitu gelar “Andi” dan “Andi Bau”. Hal ini digunakan agar pemerintahan Belanda mengetahui bergama kebangsawanan, mereka kemudian menyusun silsilah resmi hampir di semua kerjaan Bugis. Untuk membedakan diri dengan bangsawan yang derajatnya lebih rendah, sehingga kalangan bangsawan ataspun mulai menambahkan gelar Andi’ di depan nama mereka. Hanya gelar bangsawan tinggi saja yang menggunakan gelar demikian, sehingga beberapa bangsawan harus puas dengan gelar Andi’ saja. Adapaun lapisan di bawahnya menggunakan gelar “Daeng”. Namun belakangan ini banyak terjadi “inflasi gelar” dengan menyematkan namanya dengan gelar Andi’ atau Daeng yang menurut adat tidak pantas mereka sandang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar