Sejarah dan Definisi Psikologi
Menurut asal katanya berasal dari kata Yunani
yaitu psyche artinya jiwa dan logos artinya ilmu. Dengan demikian
psikologi adalah ilmu jiwa, namun makna ini masih kabur sekali. Psikologi sama
dengan ilmu lainnya seperti hukum, politik, sosial, budaya, dan lainnya yang
memiliki banyak makna. Sebelum psikologi menjadi ilmu tersendiri ia sudah
dipelajari dalam filsafat mengenai kejiwaan dimulai dari filsuf Thales
(624-548) yang menganggap bahwa jiwa adalah sesuatu yang supernatural. Lain
halnya dengan Anaximenes (490-430SM) yang mempercayai bahwa jiwa itu ada karena
berasal dari udara. Kemudian diikuti lagi dengan filsuf lainnya seperti
Socrates, Plato, dan Aristoteles (tiga serangkai). Plato berpendapat bahwa jiwa
manusia berasal ketika ia dalam kandungan. Berbeda dengan muridnya Aristoteles
membagi jiwa kedalam manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Bedanya adalah
manusia memiliki kecerdasan. Perkembangan psikologi terus berlanjut sampai
kepada zaman Renaisan yang dimulai pada filsuf Rene Descrates (1596-1650) yang mencetuskan bahwa ilmu jiwa adalah ilmu
tentang kesadaran. Ia mengemukakan mottonya yang terenal yaitu cogito ergo sum (saya berpikir maka saya
ada). Begitu terus berkembang sampai pada dokter menarik simpatinya kepada ilmu
kejiwaan. Ilmu psikologi sangat berperan penting terhadap ilmu lainnya,
misalnya dalam hukum mengenai dikeluarkannya suatu kebijakan, maka psikologi
dapat menilai apa saja faktor-faktor dikeluarkannya kebijakan tersebut.
Sehingga dalam psikologi sendiripun ada ilmu psikologi hukum. Psikologi berbeda
dengan psikiatri. Psikologi dan psikiatri sama-sama membahas mengenai kejiwaan,
namun psikiatri lebih kepada spesialis penyakit-penyakit kejiwaan. Sedangkan
psikologi hanya mempelajari tingkah laku pada umumnya.