Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Manusia

Serigala Betina. Saya memikirkan jauh sebelum saya lebih mendalam memahami isi buku ini. Mengapa seorang Psikolog sekaligus feminism seperti Ester Lianawati menggambarkan perempuan sebagai serigala betina? Ternyata disitulah adanya pembahasan penggambaran ciri-ciri serigala betina yang berarti berani, peduli, dan mampu beradaptasi dalam segala kondisi dan situasi. Itulah alasan utama saya menyukai buku ini. Saya suka ungkapan serigala betina, diluar terlihat keras tetapi di dalam sangat lembut. Alasan kedua mengapa saya menyukai buku ini adalah Ester mengajak kita untuk menelisik diri sendiri. Menelisik diri sendiri adalah hal yang sangat mendalam dan sangat tidak mengenakkan. Kita melihat luka dalam yang kita tutup rapat-rapat di sudut tergelap hati kita, menyadarkan kita bagaimana kita dituntut untuk menjadi perempuan baik-baik dalam masyarakat patriakis, bahkan mengingatkan Kembali bahwa kita sebagai perempuan tidak pernah dididik untuk mengambil keputusan untuk diri sendiri misalnya. Buku yang ditulis Ester ini adalah perpaduan antara Psikologi dan feminism. Ester sama halnya dengan saya atau mungkin beberapa dari kalian. Perempuan yang naif, permasalahan yang kompleks, dan perempuan yang terkungkung dalam nilai-nilai patriakis.

 

Psikologi Feminis : Apa dan Bagaimana?

Selain Ester, mungkin dari kalian pernah mendengar penulis feminism perempuan Bernama Simone de Beauvoir yang tentu berbanding terbalik dengan pendapat-pendapat Freud tentang bagaimana ia memandang perempuan sebagai makhluk yang lemah dan tidak setara dengan laki-laki. Pada masa-masa Freud bahkan mungkin jauh sebelum itu, perempuan sangat sulit untuk menempuh Pendidikan. Tentu kalian tidak akan asing mendengar istilah perempuan hanya berurusan di Kasur, sumur, dan dapur. Jangan pernah coba-coba membahas ini kepada perempuan yang benar-benar memahami feminism bahkan sampai postmoderisme sekalipun. Ini hanya saran saya pribadi :D Pada masa Freud Ketika perempuan berpendidikan atau bahkan mengeluarkan pendapat sekalipun, perempuan akan dianggap kurang waras bahkan cemburu dengan kesempatan-kesempatan yang diperoleh laki-laki pada masa itu.

 

Semesta Yang Tidak Terlihat

Perempuan liar menerut Ester tidak semuanya mengerikan. Perempuan Liar dalam pandangan ester adalah perempuan yang autentik, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, tidak berpura-pura, bahkan tidak takut kepada penolakan sosial. Perempuan tidak peduli kecantikan harus putih, tinggi, bahkan langsing seperti slogan-slogan iklan kecantikan dan ia benar-benar tidak peduli harus memuaskan mata semua orang terhadap dirinya sendiri. Standar-standar kecantikan dalam produk kecantikan dan iklan kecantikan membuat standar yang sangat tidak realistis sehingga perempuan tidak nyaman bahkan tidak puas dengan dirinya sendiri. Ester juga menulis mengenai perempuan-perempuan penyihir. Penyihir dalam pandangan Ester bukanlah penyihir dalam peramuan dan obat-obat terlarang. Tetapi penyihir dalam pandangan Ester adalah apakah anda masih lajang di usia yang seharusnya anda menikah? Anda tidak muda lagi dengan tanda penuaan yang semakin jelas? Anda termasuk penyihir dan ikon feminism abad 21. Dalam kategori-kategor tersebut perempuan dianggap tidak memenuhi standar “normalitas” dalam masyarakat. Mereka hanya berbeda dan otonom dalam arti tidak mendefinisikan dirinya sendiri seperti apa yang masyarakat tuntut, menjadi istri dan ibu contohnya. Bagi saya buku ini saya rating 8/10, buku ini sedikit banyak membahas bagaimana pandangan penulis sendiri dari ilmu psikologi, feminism dari sisi Simone de Beauvoir mengenai kritikan-kritikannya terhadap pandangan Freud, serta bagiaman pengaplikasiannya terhadap kehidupan sehari-hari khususnya perempuan. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar