Aku Ingin Pulang meski Sudah di Rumah


Amal jariyah adalah sebuah tindakan yang dilakukan seseorang yang semata-semata mengharapkan ridha dari Allah swt. Dari Abu Hurairah, Rasulllah saw bersabda bahwa “ketika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya”. Kemudian terbesit dalam ingatan saya mungkin salah satu ilmu bermanfaat adalah kembali meresensi buku yang saya baca kembali atau review kembali (saya tidak akan resensi satu buku/membuat ringkasan pendek, pertama hanya akan membuat anda malas membaca buku dan kedua jika ingin mengetahui lebih banyak tentu anda harus membeli di toko resmi ya baik itu hardcopy/softcopy resmi). Tahun ini saya niatkan demikian, salah satu buku yang cukup ringan dan berkesan adalah salah satu esai berjudul aku ingin pulang meski sudah dirumah oleh Kwon Rabin.

Mungkin bagi awam bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang bisa merasa tidak dirumah padahal dia benar-benar dirumah? Menurut dr. Jiemy Ardian, Sp, KJ ada perbedaan makna antara home dan house. Keduanya adalah sama-sama bangunan yang melindungi kita dari teriknya matahari, dinginnya malam, dan marabahaya lainnya yang mengganggu. Namun pemaknaan home tidak demikian. Home adalah tempat dimana seseorang bisa merasakan kenyamanan dan terikat secara emosional. Bagi banyak spesies kebutuhan biologis untuk rasa aman menjadi tolak ukur utama pentingnya rumah. Dalam otak manusia jika rumah itu sendiri terdeteksi adanya ancaman maka akan mengaktifkan reaksi fight atau flight. Reaksi ini seringkali bermasalah ketika kita mempunyai permasalahan kejiwaan sama seperti penulis esai ini alami. Persepsi ancaman, tidak aman, perasaan sulit dimengerti, dan tidak berada dirumah. Perasaan ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi hasil stimulus yang repetitif. Dari kecil anak akan belajar dari lingkungan dan rumahnya . Jika terlanjur mempelajari ini cukup lama, hingga dewasa, sangat wajar hingga dewasa merasa tidak berada dirumah. Ketika hal ini terjadi secara repetitif maka bisa bersifat defensif, menyerang, mudah marah, pasif, berjarak karena perasaan tidak dimengerti dan diterima dirumah sendiri. Mungkin penulis bahkan kita semua pernah merasakan demikian yang akan sulit dimengerti orang-orang pada umumnya. Mungkin tempat tinggal kita saat ini bukan rumah sesungguhnya, tapi ketika kita beranjak dewasa bukankah kita sudah bertanggung jawab untuk mencari rumah sendiri bukan? Bukankah sudah saatnya kita berhenti menyalahkan seseorang atau keadaan?

Buku ini terbagi atas beberapa 4 bab yang memiliki subbab masing-masing. Dimulai dengan kebahagiaanku lebih berharga dari apapun, untukmu yang menghadapi sulitnya kehidupan, jika kau tidak tahu alasan kita berpisah, dan pada akhirnya kita jatuh cinta lagi. Saya hanya membahas beberapa bagian dari subbab yang bagi saya cukup menarik. Salah satu isi sub bab dari kebahagiaanku lebih berharga dari apapun adalah esai jangan bandingkan kesulitanku dengan orang lain. Tanpa sadar kita “mungkin” pernah menggurui teman bahwa masalah dia tidak sebanding dengan kita, jangan pernah katakan demikian. Kenapa? Belum tentu teman anda merasa demikian. Atau mungkin kita pernah berkata dengan seseorang "masalahmu tidak sebanding dengan masalahku". Ungkapan seperti ini hanya membuat lawan bicara anda terus menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri, bahkan berakhir dengan suicide. Kemudian subbab untukmu yang menghadapi sulitnya kehidupan dengan salah satu judul esai penyesalan itu selalu ada, perbedaannya adalah kuantitas. Contoh yang diberikan esai dalam buku ini cukup menarik. Ketika seseorang memilih untuk bekerja/melakukan hobinya dibanding harus sekolah/kuliah dengan teman-temannya. Penyesalannya adalah tidak sekolah/kuliah di usianya, tetapi ia mendapatkan pengalaman dan pembelajaran lain yang tidak ia dapatkan di bangku sekolah/kuliah. Rating untuk esai dalam buku ini saya nilai 7/10 yang artinya cukup menarik dan sangat membantu bagi anda yang mengalami permasalahan yang sama. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar