Apakah
setiap orang yang menjalankan ibadah haji layak mendapatkan kesempatan untuk
masuk surga-Nya Allah? Apakah ibadah haji hanya sekedar tour biasa, penghabisan
tenaga dan uang, atau secara ikhlas dan sadar menyerahkan diri ini seutuhnya kepada
Allah? Apakah diri ini sanggup meninggalkan sifat dunia ke rumah Allah rumahnya
umat manusia Muslim dari seluruh penjuru dunia? Berikut adalah pemaparan Dr.
Ali Syariati dengan buku yang berjudul Makna Haji yang penulis ringkas dengan
harapan memberikan manfaat serta renungan bagi anda dalam memaknai haji yang
dimana merupakan rukun dalam Islam yang wajib dijalankan bagi yang mampu;
Menyangkal Falsafah yang Hampa
Manusia pada zaman sekarang hanya
menjalani hidupnya tanpa tujuan. Mengapa demikian? Karena ia terlena terhadap
apa yang telah dilakukan oleh musuh Islam untuk menerima hidup ini sebagaimana
adanya. Padahal hidup ini harus dimaknai serta bertujuan untuk menyempurna
kembali kepada pencipta yaitu Allah. Islam tidak melarang manusia untuk bergelut
kepada sifat manusia yang duniawi melainkan Islam mengingkan agar manusia dapat
mengimbangkan keduanya. Manusia merupakan makhluk yang selalu dipuji oleh
Allah, makhluk yang hina derajatnya kemudian diangkat oleh Allah yang ditiupkan
ruh kepadanya sehingga para malaikatpun menyembahnya. Manusia yang seharusnya
menjadi panutan untuk manusia-manusia di masa akan datang adalah Nabi Muhammad
SAW. Kenikmatan apalagi yang disangkal oleh manusia ketika bumi ini diciptakan
untuk dapat dinikmatinya serta hewan dan tumbuhan yang dapat diambil manfaat
untuk keberlangsungan hidupnya. Mengapa lagi manusia harus menjalankan
kehidupan ini dengan hampa tanpa tujuan?
Menghampiri Allah
Ke rumah Allahlah yaitu Ka’bah seharusnya
kita berkumpul sesama Muslim. Ka’bah adalah rumah orang Muslim dimana umat
Muslim datang dari kejauhan dan tempat
tinggal yang mereka anggap rumah sesungguhnya merupakan tempat asing.
Menghampiri Allah bukan berarti Allah adalah Ka’bah. Menghampiri Allah bukan
berarti anda menyembah Ka’bah yang dimana perumpaannya Ka’bah sebagai pengganti
Allah. Tapi Ka’bah adalah patokan untuk menyembah Allah dari segala penjuru
mengarah kepadanya.
Memasuki Miqat dan Menjadi Satu
Memulai haji adalah dengan Miqat
(mengenakan kain putih menutup tubuh tanpa jahitan berwarna putih). Mengapa
diperlukan demikian? Hal ini menghapus sekat-sekata sesama Muslim dari
golongan, ras, budaya, bahkan Negara sekalipun. Semuanya sama berbaur menjadi
satu tanpa memandang berasal dari mana ia. Miqat menyadarkan kita bahwa kita
hanya makhluk yang hina dihadapan pencipta. Miqat menyadarkan kita bahwa dunia
bukanlah tempat tujuan yang akan kita bawa hingga mati sehingga kita mengenakan
sehelai kain saja.
Muharramah (Menghindari Perbuatan
Tertentu)
Pada saat ihram ada beberapa hal
yang harus dihindarkan yaitu melupakan jabatan, bisnis, kelas sosial, bahkan
ras kita sendiri. Berikut adalah perbuatan tertentu yang jangan dilakukan;
- Jangan
memakai atau mencium wewangian, karena kita sedang dalam roh, ciumlah wewangian
cinta.
- Jangan
bercermin untuk melihat gambaranmu
- Jangan
menyuruh siapapun, tetapi tumbuhkanlah persaudaraan.
- Jangan
mematahkan atau mencabut tanaman
- Jangan
berburu
- Jangan
bercinta
- Jangan
menikah
- Jangan
memakai make up
- Jangan
berbuat tidak jujur, berdebat, memaki, menyumpahi, dan bersifat angkuh.
- Jangan
menjahit pakaian ihrammu
- Jangan
membawa senjata
- Jangan
berdiam di tempat teduh
- Jangan
menutup kepala (kecuali perempuan berhijab)
- Jangan
menutup wajah
- Jangan
memakai sepatu atau kaus kaki
- Jangan
memakai perhiasan
- Jangan
memotong rambut
- Jangan
menggunting kuku
- Jangan
menggunakan krim
- Jangan
mengalirkan darah
Tawaf
Merupakan gerakan mengelilingi ka’bah yang melawan arus jam yang
merupakan gerakan, ketidakberubahan, dan disiplin. Tawaf merupakan orientasi
dimana Allah sebagai pusat eksistensi.
Sumpah Setia (Hajar Aswad)
Prosesi Tawaf harus dimulai dengan
Hajar Aswad. Anda akan menyentuh dengan tangan kanan Hajar Aswad dimana anda
menjadi ummah untuk mendekatkan diri kepadanya. Prosesi ini dilakukan setelah
anda melaksanakan niat haji, shalat di Miqat dengan menggunakan pakaian ihram,
tidak melakukan perbuatan tertentu, ke hajar aswad dan tawaf. Setelah melakukan
tawaf selama tujuh putaran, maka tawaf berakhir dan ini bukan sekedar angka
tujuh biasa. Melainkan alasan tujuh putaran karena ini menandakan pengorbanan
kepada manusia.
Maqam Ibrahim
Shalatlah dua rakaat di makam
Ibrahim selesai tawaf dua rakaat. Yang dimaksud makam Ibrahim adalah sebongkah
batu hitam dengan telapak kaki Ibrahim. Di atas batu itulah Ibrahim meletakkan
batu pertama ka’bah
Antara Tawaf dan Sa’i
Selesai melaksanakan shalat dua
rakaat di makam Ibrahim, anda diperkenankan untuk pergi ke Mas’a. yaitu jarak
antara bukit Safa dan Marwah yang berjarak sekitar seperempat mil. Lari-lari
kecillah ketika di bukit ini yang dimulai dari Bukit Safa sebanyak tujuh kali. Sa’I
adalah sebuah pencarian dimana dilaksanakan dengan berlari-lari kecil dan
bergegas untuk melakukan suatu tujuan. Pada saat tawaf anda berperan sebagai
Hajar. Seorang Hajar adalah istri Ibrahim berkulit hitam yang menganugrahkan
Ibrahim seorang anak bernama Ismail. Saat itu Hajar sedang berusaha untuk
mencarikan Ibrahim air di gurun pasir. Hajar adalah seorang budak Ethiopia
istri kedua Ibrahim yang diangkat derajatnya oleh Allah swt. Di makam Ibrahim anda
berperan sebagai Ibrahim dan Ismail. Dan di marwah. Ketika memulai Sa’I lagi
anda berperan sebagai Hajar. Disinilah ditunjukkannya persatuan sejati dari
bentuk, pola, warna kulit, derajat, kepribadian, perbedaan, dan jarak
dihancurkan.
Taqshir (Akhir Prosesi Sa’i)
Setelah anda menyelesaikan sa’I anda
diperkenankan untuk memotong rambut dan kuku. Melepaskan pakaian ihram dan
mengenakan pakaian biasa untuk merasakan kebebasan. Kemudian anda meninggalkan
marwah dan menemui Ismail. Haji besar dilaksanakan pada tanggal 9 Dzhulhijah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar