Makna Haji (Bag. 1)



Apakah setiap orang yang menjalankan ibadah haji layak mendapatkan kesempatan untuk masuk surga-Nya Allah? Apakah ibadah haji hanya sekedar tour biasa, penghabisan tenaga dan uang, atau secara ikhlas dan sadar menyerahkan diri ini seutuhnya kepada Allah? Apakah diri ini sanggup meninggalkan sifat dunia ke rumah Allah rumahnya umat manusia Muslim dari seluruh penjuru dunia? Berikut adalah pemaparan Dr. Ali Syariati dengan buku yang berjudul Makna Haji yang penulis ringkas dengan harapan memberikan manfaat serta renungan bagi anda dalam memaknai haji yang dimana merupakan rukun dalam Islam yang wajib dijalankan bagi yang mampu;

Menyangkal Falsafah yang Hampa
            Manusia pada zaman sekarang hanya menjalani hidupnya tanpa tujuan. Mengapa demikian? Karena ia terlena terhadap apa yang telah dilakukan oleh musuh Islam untuk menerima hidup ini sebagaimana adanya. Padahal hidup ini harus dimaknai serta bertujuan untuk menyempurna kembali kepada pencipta yaitu Allah. Islam tidak melarang manusia untuk bergelut kepada sifat manusia yang duniawi melainkan Islam mengingkan agar manusia dapat mengimbangkan keduanya. Manusia merupakan makhluk yang selalu dipuji oleh Allah, makhluk yang hina derajatnya kemudian diangkat oleh Allah yang ditiupkan ruh kepadanya sehingga para malaikatpun menyembahnya. Manusia yang seharusnya menjadi panutan untuk manusia-manusia di masa akan datang adalah Nabi Muhammad SAW. Kenikmatan apalagi yang disangkal oleh manusia ketika bumi ini diciptakan untuk dapat dinikmatinya serta hewan dan tumbuhan yang dapat diambil manfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Mengapa lagi manusia harus menjalankan kehidupan ini dengan hampa tanpa tujuan?

Menghampiri Allah
            Ke rumah Allahlah yaitu Ka’bah seharusnya kita berkumpul sesama Muslim. Ka’bah adalah rumah orang Muslim dimana umat Muslim datang dari kejauhan  dan tempat tinggal yang mereka anggap rumah sesungguhnya merupakan tempat asing. Menghampiri Allah bukan berarti Allah adalah Ka’bah. Menghampiri Allah bukan berarti anda menyembah Ka’bah yang dimana perumpaannya Ka’bah sebagai pengganti Allah. Tapi Ka’bah adalah patokan untuk menyembah Allah dari segala penjuru mengarah kepadanya.

Memasuki Miqat dan Menjadi Satu
            Memulai haji adalah dengan Miqat (mengenakan kain putih menutup tubuh tanpa jahitan berwarna putih). Mengapa diperlukan demikian? Hal ini menghapus sekat-sekata sesama Muslim dari golongan, ras, budaya, bahkan Negara sekalipun. Semuanya sama berbaur menjadi satu tanpa memandang berasal dari mana ia. Miqat menyadarkan kita bahwa kita hanya makhluk yang hina dihadapan pencipta. Miqat menyadarkan kita bahwa dunia bukanlah tempat tujuan yang akan kita bawa hingga mati sehingga kita mengenakan sehelai kain saja.

Muharramah (Menghindari Perbuatan Tertentu)
            Pada saat ihram ada beberapa hal yang harus dihindarkan yaitu melupakan jabatan, bisnis, kelas sosial, bahkan ras kita sendiri. Berikut adalah perbuatan tertentu yang jangan dilakukan;
-       Jangan memakai atau mencium wewangian, karena kita sedang dalam roh, ciumlah wewangian cinta.
-       Jangan bercermin untuk melihat gambaranmu
-       Jangan menyuruh siapapun, tetapi tumbuhkanlah persaudaraan.
-       Jangan mematahkan atau mencabut tanaman
-       Jangan berburu
-       Jangan bercinta
-       Jangan menikah
-       Jangan memakai make up
-       Jangan berbuat tidak jujur, berdebat, memaki, menyumpahi, dan bersifat angkuh.
-       Jangan menjahit pakaian ihrammu
-       Jangan membawa senjata
-       Jangan berdiam di tempat teduh
-       Jangan menutup kepala (kecuali perempuan berhijab)
-       Jangan menutup wajah
-       Jangan memakai sepatu atau kaus kaki
-       Jangan memakai perhiasan
-       Jangan memotong rambut
-       Jangan menggunting kuku
-       Jangan menggunakan krim
-       Jangan mengalirkan darah

Tawaf
            Merupakan gerakan  mengelilingi ka’bah yang melawan arus jam yang merupakan gerakan, ketidakberubahan, dan disiplin. Tawaf merupakan orientasi dimana Allah sebagai pusat eksistensi. 

Sumpah Setia (Hajar Aswad)
            Prosesi Tawaf harus dimulai dengan Hajar Aswad. Anda akan menyentuh dengan tangan kanan Hajar Aswad dimana anda menjadi ummah untuk mendekatkan diri kepadanya. Prosesi ini dilakukan setelah anda melaksanakan niat haji, shalat di Miqat dengan menggunakan pakaian ihram, tidak melakukan perbuatan tertentu, ke hajar aswad dan tawaf. Setelah melakukan tawaf selama tujuh putaran, maka tawaf berakhir dan ini bukan sekedar angka tujuh biasa. Melainkan alasan tujuh putaran karena ini menandakan pengorbanan kepada manusia.
Maqam Ibrahim
            Shalatlah dua rakaat di makam Ibrahim selesai tawaf dua rakaat. Yang dimaksud makam Ibrahim adalah sebongkah batu hitam dengan telapak kaki Ibrahim. Di atas batu itulah Ibrahim meletakkan batu pertama ka’bah 

Antara Tawaf dan Sa’i
            Selesai melaksanakan shalat dua rakaat di makam Ibrahim, anda diperkenankan untuk pergi ke Mas’a. yaitu jarak antara bukit Safa dan Marwah yang berjarak sekitar seperempat mil. Lari-lari kecillah ketika di bukit ini yang dimulai dari Bukit Safa sebanyak tujuh kali. Sa’I adalah sebuah pencarian dimana dilaksanakan dengan berlari-lari kecil dan bergegas untuk melakukan suatu tujuan. Pada saat tawaf anda berperan sebagai Hajar. Seorang Hajar adalah istri Ibrahim berkulit hitam yang menganugrahkan Ibrahim seorang anak bernama Ismail. Saat itu Hajar sedang berusaha untuk mencarikan Ibrahim air di gurun pasir. Hajar adalah seorang budak Ethiopia istri kedua Ibrahim yang diangkat derajatnya oleh Allah swt. Di makam Ibrahim anda berperan sebagai Ibrahim dan Ismail. Dan di marwah. Ketika memulai Sa’I lagi anda berperan sebagai Hajar. Disinilah ditunjukkannya persatuan sejati dari bentuk, pola, warna kulit, derajat, kepribadian, perbedaan, dan jarak dihancurkan. 

Taqshir (Akhir Prosesi Sa’i)
            Setelah anda menyelesaikan sa’I anda diperkenankan untuk memotong rambut dan kuku. Melepaskan pakaian ihram dan mengenakan pakaian biasa untuk merasakan kebebasan. Kemudian anda meninggalkan marwah dan menemui Ismail. Haji besar dilaksanakan pada tanggal 9 Dzhulhijah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar