Muhammad Taqi Misbah Yazdi seorang filosof-teolog dalam bukunya yang berjudul Meniru Tuhan menjelaskan bagaimana seharusnya kita sebagai umat manusia di muka bumi berakhlak antar sesama makhluk hidup lainnya. Pemahaman kita terhadap makna dan tata cara akhlak tentu berbeda dari satu manusia ke manusia lainnya yang diakibatkan perbedaan latar belakang keluarga, sosial, juga budaya. Spesifikasi buku ini fokus membahas bagaimana tata cara akhlak sesungguhnya sesuai dengan amanat Ilahi.
KLASIFIKASI AKHLAK
Akhlak merupakan bagian dari kehidupan manusia. Studi mengenai akhlak meliputi deskriptif (meliputi akhlak yang timbul pada masyarakat), akhlak normatif (perspektif akhlak), dan metaakhlak (analisis akhlak). Dalam esensi konsep moral terbagi kepada pembagian konsep moral yaitu konsep esensial (konsep yang di dapat melalui indra lalu diabstraksi melalui akal), konsep logis (mental), dan konsep falsafi (pengamatan dari beberapa akal lalu dikomparasikan di antara keduanya). Konsep esensial membicarakan mengenai batasan-batasan sedangkan konsep logis dan falsafi membicarakan karakternya.
Statemen moral bisa dituangkan dalam bentuk afirmatif dan dalam bentuk normatif. Tetapi dalam artian sesungguhnya penerapan konsep moral sebenarnya masuk kepada konsep universal falsafi dimana statemen moral bersifat konvensional namun isinya berdasarkan pertimbangan faktual dari masyarakat. Asal usul kemunculan konsep moral adalah konsep moral sebagai realitas objektif (konsep moral hanya dipersepsi oleh akal), konsep moral penetapan/konvensi (konsep moral ada kaitannya dengan konsep objektif), dan konsep moral sebagai naluri (moral itu bersifat naluriah dan ada dalam kodrat manusia).
PARAMETER AKHLAK YANG BAIK
Statemen-statemen moral terbagi atas dua macam yaitu obligatif (harus/tidak boleh) dan evaluatif (baik/buruk). Mengenai esensi konsep akhlak baik dan buruk masuk dalam statemen moral evaluatif. Beberapa analisis kebaikan dan keburukan menurut beberapa filsuf dimulai dari manusia memilih apakah itu baik untuk dirinya atau tidak. Beberapa filsuf cenderung berpendapat bahwa mengenai baik dan buruk itu tergantung dari fisiknya. Apabila ia cantik, maka ia baik. Begitupun sebaliknya. Namun pada dasarnya semua itu bukanlah menjadi tolok ukur. Parameter kebaikan dan keburukan adalah apakah itu bermanfaat untuk diri manusia secara khusus, dan kemanusiaan secara universal. Pandangan-pandangan seputar kebaikan dan keburukan moral adalah objektivitas (konsep objektivitas dari alam luar), simbol emosionalitas (pandangan baik/buruk mengenai keindahan & kejelekan), I’tibar (baik/buruk dalam arti penetapan), dan kehendak Tuhan.
Latar belakang permasalahan dalam pemikiran islam terpecah dalam dua kelompok besar yaitu Adliyah (akal manusia yang dapat menentukan baik/buruknya sesuatu dan perintah Tuhan merupakan petunjuk manusia dari luar) dan Hanafiyah (sama dengan objektivitas baik/buruk dan lebih menekankan kepada perintah Tuhan). Arti-arti baik dan buruk serta klaim asy’syariah dimana dimaksudkan menemukan titik-titik persamaan antara pendapat kaum Asysyariah dan Adliyah yaitu kesempurnaan dan kekurangan (baik itu sempurna dan buruk itu kurang), kesesuaian dengan tidaknya tabiat manusia (kebaikan adalah keinginan manusia dan keburukan sebaliknya), keseuaian dengan tidaknya tujuan, dan ketersanjugan dan hujatan. Analisis atas pandangan Asysyariah tidak berbeda dengan Adliyah seperti perintah kepada Tuhan namun Adliyah juga menekankan kepada akalnya. Maka dari itu manusia tidak hanya cukup hidup dengan perintah-perintah Tuhan saja. Karena dalam kalangan Asy-syariah saja sudah berbeda penafsiran maka dari itu membutuhkan ajaran serta arahan Nabi pula.
Objektivitas acuan-acuan abstraksi dimaksudkan seperti standar kebaikan (kesesuaian antara tindakan dan tujuan manusia bertindak). Akar perdebatan dalam studi moral di seluruh dunia ini yang seperti dibahas sebelumnya bahwa di Negara ini tidak boleh dan di Negara lain tidak boleh adalah karena ketidaktahuan seseorang mengenai kesempurnaan hakiki dan ketidaktahuan dan pemahaman yang salah mengenai tindakan yang sengaja dan kesempurnaan yang sesungguhnya.
TANGGUNG JAWAB MORAL (AKHLAK)
Pentingnya studi nilai moral tidak hanya dalam bidang filsafat, melainkan sosiologi politik, ekonomi, dan masih banyak lagi. Tanggung jawab moral sangat dibutuhkan dan sudah lama menjadi perbincangan para filsuf. Tanggung jawab moral dapat berupa suatu hak atau suatu kepatutan. Syarat-syarat tanggung jawab moral berupa kemampuan (kemampuan melakukan/meninggalkan kewajiban), pengetahuan dan kesadaran (manusia tahu apa yang dibebankan padanya), dan pilihan dan kehendak yang bebas. Argumentasi determinisme berupa falsafi, natural, dan teologis. Beragam tanggung jawab moral seperti kepada Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan alam.
Mari menyatukan kemanusiaan dengan akhlak yang baik!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar