Ada Apa dengan Tragedi 10 Muharram?


Tahukah Anda tentang apa yang terjadi pada 10 muharram? Tahu pulakah Anda bahwa yang terjadi pada masa kini adalah kumpulan mozaik masa lalu? Itu artinya, masa lalu adalah fondasi yang membangun masa kini. Lalu, apa yang telah terjadi pada 10 Muharram yang berpengaruh pada kehidupan kita di masa kini? A.H. Jalali telah menjelaskan peristiwa apa yang terjadi pada 10 muharram tersebut dalam bukunya yang berjudul; Tragedi 10 Muharram. Berikut resensinya!

Konflik turun-menurun
Sejarah 10 muharram adalah sejarah yang terjadi pada cucu nabi Muhammad Saw. yaitu Imam Husain as. Dari masa Nabi Saw. hingga Imam Ali bin Abi Thalib, Abu Sufyan selalu menghalangi dakwah dan ajaran-ajaran Nabi Saw. Ketika kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib , muawiyah putra dari Abu Sufyan mengklaim dirinya sebagai pemimpin umat yang seharusnya jatuh kepada Imam Ali. Sejarah politik klaim kembali terulang pada masa Imam Husain. Kali ini, klaim kepemimpinan dilakukan oleh Yazid putra dari Muawiyah. Imam Husain as. adalah anak dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Sejarah mengenai tragedi 10 muharram dimulai pada saat Imam Husain ingin melanjutkan perjalanannya dari Madinah ke Karbala.

Mengapa Imam Husein as. Menolak Baiat?
Pasca wafatnya Nabi Saw., muawiyah selalu ingin mengambil kepemimpinan kaum muslim. Sehingga timbul perpecahan dengan Imam Ali. Namun, dalam kepemimpinan Imam Hasan as., terjadilah perjanjian antara muawiyah dan Imam Hasan as. mengenai perjanjian perdamaian dan kesepakatan bahwa Imam Husain as. (adik Imam Hasan as.) akan mengambil alih kepemimpinan atas kaum muslim setelah Muawiyah. Namun, perjanjian ini dilanggar oleh Yazid putra muawiyah yang mengambil alih kekuasaan muslim dan menuntut kesetiaan dan baiat gubernur di beberapa kota.
Salah satu alasan kepergian Imam Husein adalah menentang Yazid sebagai pemimpin dikarenakan ia suka mabuk dan bermain wanita. Bagaimana mungkin seorang seperti Yazid dapat menjadi khalifah muslim? Yazid selalu mengirim utusannya untuk mengawasi Imam Husein beserta pengikutnya. Ditambah lagi ia selalu menyebar berita ke berbagai penjuru Arab bahwa ia adalah khalifah pemimpin umat. Pemerintahan Yazid sangat kejam dan jauh dari syariat Islam seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kemudian, Yazid meminta sumpah setia kepada seluruh gubernur termasuk Imam Husein as. Inilah alasan Imam Husein as pergi.

Janji Masyarakat Kufah
Dalam perjalanan, banyak yang menyarankan agar Imam Husein as. tidak pergi ke daerah Kufah dikarenakan orang-orang Kufah wataknya selalu berubah apabila di bawah tekanan. Sebagai gantinya, mereka menyarankan untuk mengambil jalan lain seperti ke damaskus. Namun Imam Husein as. teguh pada pendiriannya untuk mendatangi Kufah karena orang-orang Kufah telah menyurati Imam Husein as. Yang mana surat itu berisikan janji untuk membaiat Imam Husein as. Dalam surat pula terterabahwa di Kufah ia akan menerima bala bantuan untuk melawan Yazid. Mugkin hal inilah yang ditakdirkan oleh Allah Swt. agar beliau meninggal dalam keadaan syahid.

Derita Karbala
Banyak sekali rintangan yang terjadi dalam perjalanan Imam Husain as. menuju Kufah. Seperti pembunuhan para pengikut Imam Husain as dibeberapa kota. Paling parahnya adalah blokade persediaan air untuk para pengikut Imam Husein as di karbala, salah satu daerah sebelum sampai ke Kufah. Sehingga anak-anak, perempuan, serta hewan peliharaan menderita kehausan. Di sisi lain, Yazid tetap mengirim utusannya untuk mengawasi Imam Husein as. beserta pengikutnya.
Tepat pada tanggal 10 muharram terjadilah perang antara pengikut Imam Husein as. dengan utusan Yazid yaitu Umar bin Sa’ad. Dalam jumlah pasukan, perang termasuk tidak seimbang. Perang di mulai setelah fajar. Dan ditengah perang ketika memasuki waktu Dzuhur, Imam Husein as. beserta pengikutnya menyempatkan diri untuk shalat. Sebagian shalat, sebagian menjaga Imam. Merka saling bergantian. Tidak ada yang bisa mengalahkan keberanian para pengikut Imam termasuk Imam Husein as. sendiri yang dikenal dengan julukan seorang yang pemberani di seluruh Arab. Pada awalnya tak ada satupun yang berani melawan Imam Husein as. Namun, akhirnya kepala Imam Husein as. dipenggal dan di arak keliling Kufah bersama dengan para keluarga Imam Husein as. yang dibawa secara paksa. Sesampainya di Kufah, kepala Imam Husein as. dipajang di depan istana Yazid.

Para Pembunuh Imam Husein as.
Setelah pembantaian di karbala, Umar bin Sa’ad menagih janji kepada Ibnu Ziyad untuk menjabat sebagai Gubernur. Ziyad beralasan bahwa surat itu hilang. Setelah kematian Yazid, Mukhtar melakukan perlawanan terhadap Ibnu Ziyad dan membunuhnya serta seluruh pasukannya yang terlibat dalam pembantaian Imam Husein as. Mukhtar memerintahkan agar mereka semua dibunuh secara tidak lazim dan menerima siksaan yang amat pedih sebelum kematiannya. Mukhtar tidak membunuh Umar bin Sa’ad, namun meminta terhadap seluruh wanita menangis di depan rumahnya setiap malam sehingga membuat Umar menjadi gila.
Menurut Ayatullah Murtadha Muthahhari, pembunuh Imam Husain as. itu ada tiga macam, yaitu: Pertama, yang membunuh jasadnya seperti pasukan Yazid dan Ibnu Ziyad. Kedua, yang membunuh kehormatan dan nama baiknya. Yaitu kelompok yang menafikan perjuangannya dan menyebut beliau pemberontak yang memang layak dibunuh dan tidak usah diingat-ingat lagi. Juga kelompok yang meyakini beliau benar dan gugur sebagai syuhada tapi tetap membela yang membunuhnya dan menuntut ummat untuk melupakan saja peristiwa tersebut, bahkan memusuhi mereka yang mengadakan majelis-majelis duka untuk mengenang tragedi Karbala. Ketiga, yang membunuh semangat perjuangannya. Yaitu kelompok yang mengaku mencintai imam Husain as., mengadakan majelis duka tapi perilaku kesehariannya bertentangan dengan apa yang dibela oleh Imam Husain as. di Karbala, seperti melalaikan salat, zalim kepada orang lain, koruptif, meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Mencintai Rasulullah Saw. dan Keluarganya
Pengorbanan Imam Husein as. tentu tidak sia-sia sehingga sampainya syariat Islam di Indonesia. Peringatan hari karbala tidak hanya dianut oleh kaum Syiah sematamelainkan seluruh umat Islam. Tidak ada salahnya memperingati jihad cucu Rasulullah Saw. dalam membela Islam, bukan? Apakah hanya kaum Syiah yang berhak mencintai cucu Rasulullah Saw. dan hal tersebut terlarang bagi kaum Sunni? Siapapun kita, semuanya berhak untuk mencintai Rasulullah Saw. dan keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar