Pengaruh Internet pada Perkembangan Otak Manusia


Internet memberikan kemudahan dan kesenangan kepada kita untuk mengakses situs apa saja, dimana saja, dan kapan saja, selama masih terhubung dengan jaringan. Tetapi apakah kita menyadari cara bekerjanya otak kita apabila terlalu lama menyentuh berbagai media sosial ini dalam kehidupan dan keseharian kita? Dalam buku The Shallows karya Nicholas Carr membahas tentang perkembangan internet dan dampaknya bagi kehidupan manusia terutama cara bekerjanya otak.

Sejarah Seni Baca dan Tulis
Pada mulanya seni tulis menulis dikenal di Somalia menggunakan beberapa tulang, batu yang berbahan halus, dan benda-benda yang mudah ditemukan disekitar masyarakat. Biasanya digunakan sebagai prasasti. Kemudian karena seiring kebutuhan masyarakat benda-benda demikian sulit untuk dibawa-bawa, mudah hilang, bahkan gampang pecah. Maka dimulailah gulungan-gulungan dari daun-daun yang didaur ulang yang dibuat di Mesir, kemudian disempurnakan kembali oleh orang Inggris dari kulit binatang sebagai alat untuk menulis. Lalu mulailah perkembangan dari kulit kayu yang terus disempurnakan sampai menjadi buku tulis yang dibaca saat ini.
Lalu seiring perkambangan zaman lagi, seni membacapun sangat erat kaitannya dengan seni menulis. Seni membaca sangat digemari orang-orang zaman dahulu, terutama orang-orang Romawi yang menyuruh budak-budaknya membacakannya apapun untuknya. Seni membaca dulunya dibaca keras-keras bahkan dalam bentuk pertunjukan, kemudian seni membaca itu sendiri dapat dibaca oleh semua kalangan, dimana saja, dan dalam keadaan apa saja. Membaca sangat digemari dalam bentuk buku, namun lebih banyak lagi yang menyukai buku elektronik yang mudah diakses serta ringkas. Hal inilah menajdi penyebab sulitnya kita membaca buku secara fokus dalam bentuk buku pada umumnya.

Perubahan Karakter Berpikir dan Kebiasaan Manusia
Sebelum mengenal apa yang dinamakan internet, manusia cenderung lebih memilih membaca buku dan menulis. Namun seiring perkembangan zaman, mengakses internet menjadi mudah.  Mulai dari modem yang dipasang di rumah-rumah, bisa dibawa-bawa hingga sampai kepada wii-fii yang bertebaran di tempat umum. Dengan internet segalanya menjadi mudah untuk diakses secara cepat dan ringkas. Namun tanpa disadari dengan mengenalnya berbagai kecanggihan program komputer dan internet, manusia mulai sulit untuk membaca buku yang memaksa otak bekerja keras untuk berpikir dan merenung. Hal tersebut juga berlaku pada kegiatan menulis. Tidak terlalu banyak kata yang dikembangkan. Cara berpikir manusia menjadi berbeda, ia ingin serba praktis, dan tidak dapat fokus membaca buku. Ringkasnya, berpikir tajam dan literal yang diperoleh dari membaca buku dan menulis perlahan hilang akibat terlalu lama menggunakan internet.

Internet dan Faktor-Faktor yang Menyebabkan Ketidakfokusan
            Hal tersebut dimulai oleh ilmuwan asal Inggris oleh Alan Turing yang memperkenalkan program kerja pengolahan kata pada masa PD II melawan Nazi yang di mana saat ini manusia mengenalnya sebagai komputer. Sesuai dengan perkembangan zamannya, komputer diproduksi dan didesain sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dalam mempermudah masyarakat baik untuk bekerja, berkomunikasi dengan orang lain, bahkan hanya sekedar untuk bermain game. Seketika itu pula muncullah media internet, yang kemudian memudahkan perkembangan informasi. Koran bahkan buku yang kita baca beralih menjadi membaca dalam media elektronik yang singkat. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakfokusan dalam membaca sebuah berita atau artikel pada internet, yaitu karena banyaknya konten iklan bahkan konten lainnya yang mengalihkan perhatian kita, lebih-lebih lagi apabila handphone kita mengeluarkan notifikasi chat dari teman, email, facebook, dan lainnya.

Google bukanlah Tuhan
Ketersohoran Google sebagai mesin pencari untuk mempermudah pencarian, tidak disangsikan lagi. Awalnya, tidak ada satupun yang ingin menggunakan google karena dianggap mempersulit. Namun seiring berjalannya waktu, justru Google yang hadir untuk mempermudah. Ia bukan hanya sekedar mesin pencari belaka, melainkan bermain dalam kecepatan dalam memperoleh data-data sehingga mempersingkat halaman yang dituju. Kemudian Google mengembangkan mesin pencarinya dengan memasang iklan bukan berdasarkan berapa besar harga yang ditentukan melainkan berapa sering iklan tersebut dicari dan diklik, maka dengan demikian semakin berkembang pula Google. Ditambah dengan gadget yang mengunakan google dalam sistem aplikasinya seperti android.

Daya Ingat (Memori)
Seperti yang dikatakan Socrates, bahwa manusia akan jarang menggunakan dan memanfaatkan memorinya. Contoh nyatanya seperti manusia yang membaca tulisan hasil pikiran orang lain, begitupun sebaliknya. Lalu setelah itu berkembang lagi dengan adanya gulungan-gulungan kertas sebagai bukti akan dokumen penting untuk menyimpan beberapa hal bersifat kepentingan umum misalnya. Lalu seiring perkembangan zaman lagi berkembang catatan kecil yang dipergunakan pelajar sebagai media pengingat agar mudah mengingat pelajaran penting. Dari catatan kecil itu menyebar kepada masyarakat untuk mengingat acara penting.
Hingga hadirlah internet sebagai penyedia jasa untuk menyajikan informasi apa saja yang dibutuhkan dengan sekali klik, secara mudah dan sederhana. Informasi yang kita dapat di internet membuat otak kita dangkal. Mengapa demikian? Karena hanya dengan membaca di internet membuat kita menerima apa adanya begitu saja tanpa dipikirkan lagi terlebih dahulu dengan mendalam dan saksama. Berbeda dengan buku yang tebal dan terlihat membosankan. Buku menyajikan berbagai macam informasi dari kumpulan pemikir-pemikir dunia sampai ungkapan pemikir pribadi dalam tulisan buku tersebut. Buku dapat membuat kita menolak mentah-mentah apa yang ada dalam pikiran penulisnya. Tetap kepada inti sebelumnya bahwa buku membuat kita membantu mengembangkan memori kita berbeda dengan penggunaan internet itu sendiri.

Teknologi Sebagai Alternatif
Tanpa disadari kita terlalu mengandalkan teknologi dengan jarang menggunakan kemampuan otak kita sendiri. Contohnya seperti adanya aplikasi dalam smartphone  mengenai peta. Kita lebih mengandalkan peta dibandingkan kinerja kemampuan otak dalam mengingat nama jalan dan sekitarnya yang nyata-nyatanya beberapa kali kita lalui. Seperti yang dibahas sebelumnya, bahwa tidak ada salahnya kita mengikuti perkembangan teknologi, namun teknologi diperlukan hanya sebagai alternatif terakhir. Kita harus lebih sering menggunakan dan meningkatkan kinerja otak kita.

Selamat berpikir!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar