Pernahkah Anda berpikir tentang penelitian filsafat?
Meneliti sesuatu yang sifatnya non materi. Adapun obyek penelitiannya
seperti Alam semesta, manusia bahkan Tuhan yang Ghaib sekalipun. Sebagian
dari kita berideologi, berkata, bertindak hingga teraplikasikan dalam gaya
hidup tanpa memikirkan untuk apa hal itu ada dan apa manfaatnya untuk diri kita
sendiri. Berikut ini adalah subyektivitas penulis dalam meresensi buku Nalar
Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia yang ditulis oleh Mulyadhi
Kartanegara.
Tuhan adalah Segalanya
Kuasa Tuhan ada di mana-mana. Ia tidak dikatakan dalam
bilangan. Ia yang “diharuskan” adanya, berbeda dengan makhluk yang hanya
“dimungkinkan” adanya. Alam merupakan ciptaan Tuhan pula. Manusia mana yang
dapat membuat alam secara terstruktur dan bermanfaat untuk semua makhluk?
Manusia mana yang bisa mengatur alam semesta diluar bumi padahal kita ketahui
ada unsur berbahaya yang dapat berdampak pada bumi? Apapun yang ada di bumi dan
langit semua bergantung kepada Tuhan. Seperti yang dikatakan Dostoyevski; jika
tidak ada Tuhan, maka segalanya akan menjadi tidak mungkin.
Memahami Tuhan melalui Akal
Al kindi atau Ibnu Khaldun seorang bapak sosiologi
mengatakan bahwa alam hanya aksiden-aksiden dan bersifat sementara maka harus
diciptakan secara terus menerus oleh Tuhan. Al Kindi kemudian
menyimpulkan, jika alam semesta diciptakan, maka harus ada pencipta. Lainnya
halnya dengan pandangan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa karena sesuatu yang
mungkin ada (makhluk) tidak bisa ada dengan sendirinya.Maka, harus ada suatu
wujud yang mandiri yang ada karena diri sendiri (Tuhan) dan memberikan
keberadaan kepada sesuatu yang mungin ada (makhluk). Sementara Ibnu Rusyd
menyatakan bahwa dengan mengamati alam semesta, akal kita akal menyimpulkan
bahwa alam semesta adalah sebuah dari seorang perancang (Tuhan). Kesamaan dari
3 pandangan filsuf muslim tersebut adalah kesepakatan pemikiran meraka yang
menyatakan bahwa untuk memahami eksistensi Tuhan dibutuhkan prinsip akal,
salah satunya prinsip kausalitas.
Memahami Tuhan melalui Alam Semesta
Positivisme sekuler beranggapan bahwa alam semesta
merupakan tempat terakhir & tidak ada sesuatupun diluarnya atau
setelahnya. Dalam positivisme, objek penelitian haruslah yang bisa
diindrai. Karena Tuhan tak dapat diinderai, maka Tuhan tidak dapat diteliti,
tidak dapat diamati dan otomatis tidak memiliki keberadaan. Ini jelas
bertentangan dengan Spiritualisme panteistik yang beranggapan bahwa alam
semesta merupakan cermin Tuhan yang tidak sempurna. Mereka menyamakan alam
dengan Tuhan. Sementara para sufi yang mempelajari tasawuf dengan jelas
menegaskan bahwa alam bukanlah Tuhan, melainkan ia adalah salah satu ciptaan,
kebesaran, dan kekuasaan Tuhan.
Metode Kajian Filsafat
Metode Hermeneutik adalah metode yang digunakan agar kita
sebagai pembaca mengerti maksud dari naskah/buku yang kita baca. Terkadang kita
tidak mengerti jalan cerita yang ditulis oleh penulis karena perbedaan zaman
atau cara pandang. Untuk mengatasi permasalahan seperti ini, pemikiran
kita harus keluar dari zaman modern menuju zaman klasik. Maksudnya kita
memosisikan diri sezaman dengan penulis. Dalam memahami pemikiran penulis kita
membutuhkan dua cara; Pertama,bagaimana proses pemikirannya dan
yang kedua adalah bagaimana hasil dari kesimpulan
pemikirannya. Perkembangan kurikulum terutama filsafat islam juga sangat
berguna yaitu agar tidak terjadinya kekeliruan. Namun, hanya beberapa filosof
islam saja yang dikenal. Setelah membaca sebuah naskah tentu kita menganalisis
hasil bacaan kita. Dalam menganalisis kita dapat membagi menjadi analisis
deskriptif dan analisis kritis. Analisis deskriptif meniscayakan tidak adanya
pandangan penulis sendiri bahkan hanya sebagai penyambung lidah dari tokoh apa
yang ia tulis. Berbeda dengan analisis kritis dimana ia mengkritik tokoh yang ia
tulis di akhir naskah, bahkan terkadang menolak pendapat para tokoh yang ia
tulis sendiri.
Perkembangan Filsafat Islam
Ilmuwan barat yang meninggalkan epistemologi metafisik
semakin “menjauhkan” kita dari hal-hal yang sifatnya metafisik seperti Tuhan.
Maka dari itu, ilmuwan muslim dituntut untuk menggabungkan antara pengetahuan
metafisik dan epistemologi yang tentu saja sangat jauh berbeda dalam pemikiran
barat. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak bagaimana usaha Ibnu Khaldun yang
merupakan sosiolog dan filsuf serta Murtadha Muthahhari yang merupakan filsuf
Islam kontemporer.
1) Sosiologi Ibnu Khaldun
Ibn Khaldun merupakan seseorang dari kelas menengah dan
lahir di Tunis. Ia merupakan bapak sosiologi diakui baik oleh islam maupun
barat. Saat masih kecil orang tua beserta guru-gurunya meninggal karena wabah.
Ia memasuki dunia pemerintahan dan menderita berkepanjangan. Kemudian menarik
diri dan tinggal di sebuah desa. Disinilah ia memulai dan menulis sejarah
hidupnya. Kemudian ia menjadi profesor di Mesir dan meninggal di sana. Latar
belakang pendidikannya tidak hanya kuat dalam pendidikan agama, melainkan
logika, fisika, matematika, metafisika dan lainnya. Ia sangat kritis menanggapi
para pendapat filosof dan ilmuwan sebelumnya namun dengan metodologi
filosofis. Dalam kajian Ibn Khaldun ia menyampaikan “apa yang ada”, bukan
“apa yang seharusnya”. Teori sosiologis yang dianut Ibn Khaldun adalah dengan
metode demonstratif yang dibagi dalam empat macam sebab. Yaitu sebab-material,
formal, efisien, dan final.
2) Filsafat Muthahhari
Muthahhari banyak belajar kepada Ayatullah Khomeini. Ia
juga menghasilkan banyak buku sebelum sepeninggalannya dalam revolusi
Islam Iran. Dalam filsafat dan peran ideologinya pada awalnya ia cenderung ke
marxisme yang ala kebarat-baratan. Di sisi lain, ia bertentangan pula dengan
marxisme. Muthahhari berpandangan bahwa wujud manusia dan alam tidak tetap dan
dapat hancur dan sangat bergantung pada satu wujud yang kekal. Pandangannya
terhadap alam semesta adalah terdiri dari gabungan antara dunia nyata dan dunia
gaib. Pada dunia nyata dalam tataran fisik bersifat terbatas, sedangkan dalam
pandangan dunia gaib tidak terbatas. Manusia menurutnya adalah evolusi terakhir
dan memiliki derajat lebih tinggi daripada binatang.
Masa Depan Filsafat Islam
Dalam dinamika kehidupan tentu saja kita akan berkembang
secara terus menerus. Baik itu diri sendiri, maupun lembaga masyarakat dan
Negara. Kita dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman, namun tentu saja
dengan pandangan islam. Metafisika adalah upaya mengeksplorasi dunia non
indrawi. Dimana umat Islam percaya pada hal gaib. Namun, penyampaiannya tidak
dengan cara yang sudah-sudah melainkan melalui nalar yang masuk akal. Hal ini
menyangkut eksistensi Tuhan salah yang bertentangan dengan beberapa ilmuwan
barat yang mengatakan alam ini terjadi secara alamiah tanpa campur tangan
Tuhan. Diharapkan bagi para filosof muslim selanjutnya dapat memaparkan paham
religius dengan argumen-argumen masuk akal yang menjawab tantangan zaman.
Pusat pemikiran islam dan filsafatnya memiliki makna ganda,
pertama adalah untuk menjawab tantangan filosof barat yang tidak mempercayai
hal-hal bersifat non materi. Dan yang kedua adalah untuk mengantisipasi
kebutuhan informasi tentang islam di masa depan. Sumber dan metode ilmu adalah
mengenai bagaimana cara kita untuk memperoleh ilmu tersebut. Yaitu dengan
espistemologi (akal, indra, khayal dan hati). Masa depan islam bertumpu pada
filsuf muslim. Masa depan filsuf muslim bertumpu pada etika, akal, dan ilmu,
yang merupakan perpaduan sempurna. Takkan ada gunanya seseorang berilmu apabila
etikanya buruk. Begitupun sebaliknya, hanya sia-sia belaka.
Selamat berfilsafat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar