Tahapan Kehidupan dan Kematian Manusia

Prof. Quraish Shihab pada awal 2014 ini baru saja menerbitkan buku terbarunya yang berjudul; Kematian adalah Nikmat. Dari judulnya saja, kita sudah dapat menduga bahwa buku tersebut berusaha menggambarkan kepada kita mengenai renungan lebih mendalam mengenai kematian. Yang menarik dari buku ini karena kematian dibahas dari pelbagai perspektif.  Mulai dari pandangan filosof, agamawan, ilmuwan dan tentunya Al-Qur’an yang juga merupakan fokus studi Prof. Quraish Shihab. Berdasarkan subyektivitas pribadi saya, inilah resensi buku yang mencerahkan tersebut;

Kematian dalam Pelbagai Perspektif
Kematian itu pasti, tinggallah bagaimana kita menyikapi kematian tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Ali ra; banyak yang melihat kematian, tetapi menduganya hanya menimpa yang lain dan lupa bahwa suatu ketika diapun akan mati. Maksudnya, terkadang sebagai manusia kita tidak sadar bahwa kematianpun akan menimpa kita. Kematian adalah rahasia Tuhan. Tuhan Pemilik Segala Sesuatu dan hanya kepada-Nyalah kita kembali. Segala sesuatunya akan binasa kecuali Tuhan.

Kehidupan menurut para filosof adalah gerak, rasa, dan tahu. Mereka tidak menjelaskan hakikat kehidupan, namun hanya menjelaskan tanda-tanda kehidupan. Berbeda dengan kaum agamawan dalam memandang kematian. Dimana kematian adalah perpisahan antara ruh dan jasad serta perpindahannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara menurut pandangan ilmuwan, dokter misalnya, memandang kematian seperti berhentinya denyut jantung seseorang. Umumnya, ilmuwan menganggap bahwa mati adalah tidak berfungsinya sesuatu sesuai dengan fungsi yang diharapkannya. Pandangan ilmuwan ini, jika disintesakan dengan pandangan kaum agamawan akan berbunyi seperti ini; manusia yang berfungsi sebagai khalifah dan hamba Tuhan dikatakan mati apabila gagal melaksanakan fungsinya.

Manusia dan Evolusinya
Manusia adalah makhluk Tuhan yang unik, demikian pendapat para filosof, ilmuwan, dan agamawan. Proses kelahiran manusia adalah bertemunya cairan yang terpancar dari pria (sperma) dan sel telur wanita. Dari beberapa benih itu hanya satu yang berhasil mencapai dinding rahim dan mencegah benih lainnya untuk masuk.  Setiap organ manusia memiliki banyak sel dan menjalankan fungsinya masing-masing. Di dalam diri manusia berpotensi untuk menghimpun sifat-sifat Allah sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya sebagai makhluk. Karena penciptaan manusia sesuai dengan citra Allah, terkadang manusia hanya mencapai sebagian fenomena alam saja bukan nomenanya. Mereka hanya menjadi cerminan sebagian makhluk Tuhan seperti binatang bahkan lebih buruk. Manusia seperti ini tidak mencapai evolusinya, bahkan ia berkeinginan untuk tidak pernah wujud sama sekali.

Evolusi manusia menurut ilmuwan seperti Charles Darwin adalah tahap dari kera ke manusia. Evolusi manusia menurut pandangan agamawan juga beragam pendapat seperti evolusi fisik dari perut ibunya, perkembangan potensinya dan kembali kepada penciptanya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan berkali-kali bahwa manusia diciptakan dari tanah. Dari pandangan filosof seperti Plato, evolusi manusia adalah wujud di alam ide. Sementara dalam pandangan ulama Islam evolusi manusia adalah tahap dari perut ibunya dan tahap kehadirannya di muka bumi. Namun, sebagian besar tidak semua manusia menikmati fase kehidupan. Sehingga kita sebagai manusia dianjurkan untuk selalu melakukan kegiatan positif, introspeksi diri, dan bertaubat atas kesalahan-kesalahan kita.

Makna Kehidupan
Menurut Protagoras yang menganut sophisme,  tidak ada wujud mandiri selain apa yang tergambar dari benak kita. Apa yang dianggap seseorang benar adalah nisbi. Berbeda dengan pendapat para sufi yang mengemukakan; siapapun yang berkata bahwa ada keberadaan selain Tuhan, maka ia telah berbohong. Lain lagi menurut Al-Qur’an yang  memerintahkan untuk menggunakan mata dan telinga (panca indera) kita untuk menjangkau keberadaan Tuhan. Tapi, Al-Qur’an juga menekankan bahwa tidak semua yang maujud (ada) dapat dijangkau oleh panca indera. Pandangan pesimistis tentang hidup terdapat dalam pandangan para filosof dan penganut agama sekalipun yang menganggap bahwa hidup manusia adalah tidak luput dari kesulitan belaka. Padalah Tuhan tidak pernah membebankan umatnya melebihi batas kemampuannya.

Hidup yang dianjurkan oleh Islam terlaksana bila terpenuhi 3 hal yaitu usaha maksimal yang halal guna meraih kenikmatan duniawi, memperoleh kenikmatan dan mampun memanfaatkannya, dan terakhir adalah memberikan sebagian yang diperoleh untuk kenyamanan hidup orang lain. Maka dari itu jangan cepat mengambil keputusan mengenai kesengsaran hidup. Firman Allah Swt. Mengatakan bahwa “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik buat kamu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kamu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah (2):216). Pandangan sebaliknya adalah pemujaan secara berlebihan terhadap dunia. Yang terpenting adalah materi dari dunia ini saja. Dalam pandangan Islam manusia harus berevolusi. Yang menjadi tolok ukur kualitas manusia adalah mengantarnya kepada pengenalan dan kekaguman terhadap Allah Swt.

Konsepsi Tentang Kematian
Manusia dan makhluk hidup manapun tidak akan pernah bisa menghindari apa yang dinamakan dengan maut. Berbagai macam cara manusia untuk menghindarinya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kehidupan kekal dan abadi hanya dimiliki oleh Allah swt. Godaan untuk hidup kekal sudah ada semenjak iblis menggoda Adam dan pasangannya. Kematian adalah berhentinya denyut jantung manusia, kata ilmuwan seperti dokter. Berbeda dari pandangan kaum ulama mengenai kematian yaitu sepanjang perjalanan hidupnya di dunia, karena hidup di dunia hanya persinggahan atau hanya seperti dalam mimpi saja.

Sebelum menghadapi kematian manusia akan dihadapkan terlebih dahulu dengan sakaratul maut. Sakaratul maut adalah dimana saat-saat ruh akan dicabut dari jasad baik secara perlahan maupun dengan cara di paksa. Beberapa pendapat ulama menegaskan bahwa manusia yang taat dicabut nyawanya secara perlahan (kematian perlahan). Berbeda dengan manusia yang durhaka ruhnya akan dicabut secara paksa (kematian mendadak) yang membuatnya tersiksa. Tidak akan pernah seseorang hidup kembali setelah kematiannya, apalagi yang kita kenal dengan mati suri. Itu bukanlah kematian hanya masa jeda saja. Kematian adalah nikmat. Mengapa demikian? Bayangkan saja apabila bumi ini dipenuhi oleh manusia sampai bumi tidak mampu menampung manusia lagi atau bayangkan saja kalau manusia itu kekal, tidak perlu makan, tidur, sakit, dan sebagainya. Sungguh membosankan, bukan?

Alam Barzakh; Pembatas Dunia dan Akhirat
Banyak informasi agama yang patut untuk diketahui dan salah satunya mengenai alam barzakh atau alam kubur. Alam dimana setelah manusia meninggal dunia. Alam barzakh lebih condong mendekati alam akhirat daripada dunia. Alam barzakh bukan merupakan ruang lingkup alam dunia bukan pula alam akhirat. Baik alam dunia maupun alam barzakh hanya memiliki waktu yang singkat berbeda dengan akhirat. Semua manusia yang meninggal telah menanti di alam barzakh menuju ke padang masyhar untuk dihisab (seluruh manusia secara bersamaan) dan dihitung amal kebaikannya dengan ketentuan terakhir apakah ia akan masuk surga atau neraka.

Kiamat; Akhir Kehidupan Manusia
Hari kebangkitan atau kiamat adalah hari yang sangat panjang karena terjadi peristiwa yang beraneka ragam. Termasuk pada bumi dan segala isinya. Beberapa ulama berpendapat bahwa langit dilipat bagaikan lembaran-lembaran buku. Pada hari kiamat manusia dibangkitkan dari alam kuburnya untuk selanjutnya dihisab. Tanda-tanda kecil dekatnya kehadiran kiamat yang diungkapkan oleh Nabi Saw. adalah jika suatu tugas diserahkan bukan kepada ahlinya, anak yang mendurhakai ibunya, orang-orang yang dahulunya tidak menggunakan alas kaki sekarang berlomba-lomba untuk menguasai dunia, serta anak-anak yang ditelantarkan. Sebagian besar orang mengetahui bahkan mengakui setelah kematian manusia akan dibangkitkan untuk dipertanggungjawabkan amal ibadahnya selama ia hidup.

Peniupan sangkakala pertama adalah menandakan kebangkitan manusia dari alam kuburnya, belum dijelaskan secara rinci bagaimana peniupan sangkakala kedua entah 40 hari, bulan, atau tahun. Setelah itu manusia menuju padang masyhar dikumpulkan untuk dihitung amal kebaikannya. Nabi Saw. mengatakan bahwa pada saat di padang mashyar manusia tidak menggenakan baju sehelaipun, ia bangkit seperti saat ia dilahirkan di dunia. Pada saat perhitungan (hisab) manusia sibuk dengan dirinya masing-masing tidak peduli apakah ia bertemu orang tua, kerabatnya, sahabatnya, maupun kekasihnya sekalipun. Timbangan amal kebaikan ketika manusia di hisab bukan seperti timbangan yang kita ketahui pada umumnya. Timbangan yang dimaksud adalah timbangan (kebenaran) mengenai amal kita. Bila berat timbangan seseorang, selamatlah ia. Dan apabila ringan timbangan seseorang, celakalah ia. Neraka dan surga nyata adanya. Kenyataan tersebut juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Siksa neraka menurut beberapa pendapat ulama tidaklah kekal. Begitupun di surge. Yang Kekal hanyalah sesuatu yang tidak dilahirkan dan tidak pernah mati; Tuhan.
Semoga kita mengalami kematian yang nikmat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar